{"id":1231,"date":"2022-08-17T10:42:00","date_gmt":"2022-08-17T03:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/?p=1231"},"modified":"2024-03-16T05:22:43","modified_gmt":"2024-03-15T22:22:43","slug":"cara-mengkritik-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/cara-mengkritik-anak\/","title":{"rendered":"Daripada Memarahi, Berikut Cara Mengkritik Anak dengan Baik"},"content":{"rendered":"\n<p>Manusia bukanlah makhluk sempurna sehingga wajar kalau membuat kesalahan kapan saja dan di mana saja. Hal tersebut juga berlaku kepada seorang anak. Tidak jarang, orang tua bisa melontarkan kritikan yang menyakiti hati anak ketika sudah jengkel. Sebenarnya, bagaimana <strong>cara mengkritik anak <\/strong>yang baik untuk membantu anak supaya lebih termotivasi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama?<\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Memberikan_Anak_Ruang_untuk_Menjelaskan_Kesalahannya\"><\/span><strong>Memberikan Anak Ruang untuk Menjelaskan Kesalahannya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2><div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/cara-mengkritik-anak\/#Memberikan_Anak_Ruang_untuk_Menjelaskan_Kesalahannya\" >Memberikan Anak Ruang untuk Menjelaskan Kesalahannya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/cara-mengkritik-anak\/#Buatlah_Anak_Berpikir_dari_Dua_Sudut_Pandang_yang_Berbeda\" >Buatlah Anak Berpikir dari Dua Sudut Pandang yang Berbeda<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/cara-mengkritik-anak\/#Fokus_Membahas_Kesalahan_Anak_Tanpa_Menghakimi\" >Fokus Membahas Kesalahan Anak Tanpa Menghakimi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/cara-mengkritik-anak\/#Bantu_Anak_Menemukan_Solusi_dari_Kesalahannya\" >Bantu Anak Menemukan Solusi dari Kesalahannya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/cara-mengkritik-anak\/#Peluk_dan_Katakan_Bahwa_Berbuat_Salah_Merupakan_Proses_Belajar\" >Peluk dan Katakan Bahwa Berbuat Salah Merupakan Proses Belajar<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n\n\n\n\n<p>Kesabaran adalah kata kunci yang harus dipegang oleh <a href=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/parenting\/\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/parenting\/\">para orang tua<\/a> dalam mendidik anak setiap harinya. Orang tua perlu menyadari bahwa anak juga bukanlah manusia yang sempurna dan tidak luput dari kesalahan.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/tips-mengkritik-anak-yang-berbuat-kesalahan-1-1024x576.png\" alt=\"cara mengkritik anak dengan memberi ruang kesalahan untuk anak\" class=\"wp-image-1686\" srcset=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/tips-mengkritik-anak-yang-berbuat-kesalahan-1-1024x576.png 1024w, https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/tips-mengkritik-anak-yang-berbuat-kesalahan-1-300x169.png 300w, https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/tips-mengkritik-anak-yang-berbuat-kesalahan-1-768x432.png 768w, https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/tips-mengkritik-anak-yang-berbuat-kesalahan-1-1536x864.png 1536w, https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/tips-mengkritik-anak-yang-berbuat-kesalahan-1-2048x1152.png 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Salah satu cara mengkritik anak yang baik adalah memberi ruang untuk pengakuan<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Banyak orang tua yang karena tidak sabar langsung memarahi si anak ketika melakukan kesalahan. Padahal <strong>cara mengkritik anak <\/strong>seperti itu bukanlah hal yang tepat. Anak cenderung akan merasa bahwa orang tua selalu menyalahkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Daripada memarahi, setelah menarik napas yang panjang, orang tua perlu memberikan anak ruang untuk menjelaskan apa yang sudah dia perbuat dan alasannya mengapa melakukan hal tersebut. Dengan cara seperti itu, anak akan merasa bahwa pendapatnya bisa didengar oleh orang tua sehingga nantinya anak akan terbiasa terbuka pada orang tuanya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Buatlah_Anak_Berpikir_dari_Dua_Sudut_Pandang_yang_Berbeda\"><\/span><strong>Buatlah Anak Berpikir dari Dua Sudut Pandang yang Berbeda<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Cara mengkritik anak <\/strong>dengan baik selanjutnya adalah membuat anak berpikir dari dua sudut pandang yang berbeda. Dengan cara seperti itu, orang tua dapat melatih rasa empati kepada anak sehingga tidak semaunya sendiri dalam bertindak.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh kecilnya adalah ketika anak tidak sengaja mendorong anak orang lain sampai terjatuh. Anda bisa mengajaknya berdiskusi setelah mendengarkan apa yang menjadi alasannya mendorong temannya. Anda bisa bertanya kepadanya apa yang dia rasakan jika menjadi pihak yang didorong sampai terjatuh oleh temannya yang lain, tentu saja dengan bahasa yang tegas, tetapi lembut.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika salah, orang tua perlu mengatakan hal tersebut salah dan mengajarkannya untuk minta maaf.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fokus_Membahas_Kesalahan_Anak_Tanpa_Menghakimi\"><\/span><strong>Fokus Membahas Kesalahan Anak Tanpa Menghakimi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Ketika sedang berdiskusi dengan anak tentang apa yang menjadi kesalahannya, orang tua perlu fokus dalam membahas kesalahan anak pada saat itu dan jangan ditambah-tambahi dengan kesalahannya di masa lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Hindari penggunaan kata \u2018jangan\u2019 ditambah dengan nada yang tinggi. Ketika anak selesai mengungkapkan kesalahannya, pergunakanlah kata-kata berempati. Seperti misalnya, <em>\u201cIbu paham sekali kalau mengingat adalah hal yang sulit untukmu, ya. Yuk, Ibu temani belajar supaya kamu bisa semangat dan sama-sama belajar dengan Ibu.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan menggunakan kalimat seperti itu, anak cenderung akan merasa tidak dipojokkan dan diayomi oleh orang tua, alih-alih hanya terus-terusan disalahkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bantu_Anak_Menemukan_Solusi_dari_Kesalahannya\"><\/span><strong>Bantu Anak Menemukan Solusi dari Kesalahannya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Dari kesalahan yang dilakukan oleh anak, orang tua dapat melatih anak untuk berpikir mengenai jalan keluar yang harus dilakukan olehnya sendiri. Membiarkan anak berpikir solusi atas masalahnya akan membuat anak memiliki bekal yang baik di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak orang yang hanya meributkan kesalahan-kesalahan saja tanpa mengetahui solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan dari kesalahan tersebut. Anak dapat dilatih untuk berpikir kritis di tengah kesalahan yang dibuatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika anak bingung, bantulah dia menemukan solusinya. Misalnya saja seperti teknik yang dilakukan oleh Ridwan Kamil kepada anaknya, di mana anaknya disuruh menulis di papan terkait kesalahan, solusi, dan janji untuk tidak mengulanginya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peluk_dan_Katakan_Bahwa_Berbuat_Salah_Merupakan_Proses_Belajar\"><\/span><strong>Peluk dan Katakan Bahwa Berbuat Salah Merupakan Proses Belajar<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Cara mengkritik anak <\/strong>dengan baik yang terakhir adalah selalu peluk dia dan katakan bahwa kesalahan juga merupakan bentuk dari proses belajar. Jika tidak salah, dia tidak akan pernah tahu mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sambutlah dia dengan pelukan hangat sambil mencium atau mengatakan, <em>\u201cIbu dan Ayah melakukan hal ini bukan karena benci kepadamu. Namun karena kami mencintaimu,\u201d <\/em>ketika hukuman diperlukan sebagai dampak atas kesalahannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan cara seperti itu, orang tua bisa bertindak tegas sehingga anak mengetahui bahwa kesalahan tersebut tidak boleh diulangi kembali. Namun ingat, tegas tidak sama dengan marah-marah tanpa tujuan yang jelas.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cara mengkritik anak <\/strong>memang bervariasi karena disesuaikan dengan keadaan dan juga karakter anak. Satu hal yang pasti jadilah orang tua yang mengkritik dengan tujuan membangun, bukan menyalahkan dan menyudutkan si anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber :<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/jalantikus.com\/tips\/cara-membuka-akses-google-drive\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/jalantikus.com\/tips\/cara-membuka-akses-google-drive\/<\/a><a href=\"\"><\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/5-cara-terbaik-untuk-mengkritik-anak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/5-cara-terbaik-untuk-mengkritik-anak<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.klikdokter.com\/info-sehat\/read\/3170100\/cara-menyampaikan-kritik-secara-tepat-kepada-anak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.klikdokter.com\/info-sehat\/read\/3170100\/cara-menyampaikan-kritik-secara-tepat-kepada-anak<\/a><\/p>\n\n\n<div class=\"eduka-after-content\" style=\"text-align: center;\" id=\"eduka-1128339533\"><div id=\"eduka-3002131464\" style=\"margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/s.id\/Hvtmx\" aria-label=\"Blog-Banner-560&#215;315-px\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Blog-Banner-560x315-px.gif\" alt=\"\"  width=\"560\" height=\"314\"  style=\"display: inline-block;\" \/><\/a><\/div><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia bukanlah makhluk sempurna sehingga wajar kalau membuat kesalahan kapan saja dan di mana saja. Hal tersebut juga berlaku kepada seorang anak. Tidak jarang, orang tua bisa melontarkan kritikan yang menyakiti hati anak ketika sudah jengkel. Sebenarnya, bagaimana cara mengkritik anak yang baik untuk membantu anak supaya lebih termotivasi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama?<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1686,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[116],"tags":[128,129,127,126],"class_list":["post-1231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-parenting","tag-kesalahan-anak","tag-menegur-anak","tag-mengkritik-anak","tag-parenting"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1231"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4492,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1231\/revisions\/4492"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1686"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-edukasi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}